BannerFans.com
  Nusantara
[ Selasa, 17 Februari 2009 ]
RENGAT - Warga Kota Rengat, Indragiri Hulu, Provinsi Riau, dihebohkan penemuan ular aneh. Ular berwarna hitam tersebut memiliki empat kaki. Adalah Bujang, pemuda berusia 26 tahun, yang memelihara binatang langka tersebut.

Bujang yang sehari-hari bekerja sebagai loper koran itu menyimpan ular aneh tersebut dalam botol air mineral. Panjang ular itu sekitar 15 sentimeter.

Secara kasatmata, ular tersebut terlihat memiliki empat kaki. ''Mungkin ini masih anaknya, tapi saya juga nggak tahu nama binatang ini,'' ucap Bujang yang saat itu didampingi rekannya, Berto.

Dia menuturkan bahwa ular tersebut diperolehnya dari seorang warga di Desa Rantau Mapesai, Rengat Seberang, Kecamatan Rengat, Minggu pagi lalu (15/2). Warga tersebut menuturkan, ular berkaki empat itu ditemukan di selokan kecil depan rumahnya. 

Karena tidak mengetahui jenis binatang itu dan kebingungan memeliharanya, warga tersebut memberikannya kepada Bujang. ''Saya sendiri juga tidak tahu, tapi belum lama ini saya pernah baca di koran, binatang seperti ini pernah ditemukan di Kalimantan dan tergolong langka,'' ujarnya.

Ular berkaki empat milik Bujang itu mirip salamander, vertebrata yang hidup di dua alam (amfibi) yang tergolong dalam kelas amfibi yang berekor dan berkaki (caudata/urodela). Ahmad Muhammad, dosen biologi fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam (FMIPA), menduga binatang itu masuk jenis kadal. Hewan tersebut memang sangat langka. ''Setahu saya, ini yang pertama ditemukan masyarakat di Riau, tapi mungkin juga di Sumatera. Namun, saya tidak tahu pasti. Kalau di Kalimantan saya pernah dengar,'' ungkap alumnus Universitas Gajah Mada itu. (*/jpnn/ruk)
Pergi dan Pulang
Friday, 06 February 2009
PERNAHKAH Anda sadari bahwa rute seluruh aktivitas kita sehari-hari adalah perjalanan ”pergi dan pulang”? Pagi-pagi ada yang meninggalkan rumah untuk ke sekolah, kantor, pabrik, pasar, dan sekian banyak tempat lain.


Lalu siang atau sore hari, semuanya ramai-ramai pulang ke rumah. Sekalisekali silakan berimajinasi, Anda terbang bagaikan Batman berputar-putar di atas Kota Jakarta dan sekitarnya di pagi hari. Anda akan melihat gerakan massal manusia yang keluar dari rumahnya bagaikan barisan semut yang panjangnya puluhan kilometer keluar dari lubang tanah, lalu bergerak serentak menuju tempat kerja dan sekolah. Begitu beragamnya alamat serta tujuan mereka.

Namun semuanya disatukan oleh sebuah aktivitas, yaitu bergerak ”pergi” dan kemudian bergerak ”pulang”. Prosesi masif pergerakan manusia penduduk Jakarta dan tentu kota besar lain itu telah berlangsung puluhan tahun. Jumlahnya kian tahun kian besar sehingga menambah kemacetan. Sarana untuk kegiatan ”pulang dan pergi” kini juga semakin berkembang. Dulu manusia pergi meninggalkan gua menuju ladang atau pergi berburu hanya berjalan kaki. Lalu muncul gagasan baru, mereka memanfaatkan jasa kuda, unta, kerbau, dan hewan lain untuk dinaiki. 

Dengan kemajuan teknologi, manusia modern berhasil menciptakan mobil. Untuk mengenang jasa hewan yang pernah dinaiki oleh nenek moyang kita, mobil-mobil itu diberi nama seperti Kijang, Kuda, Jaguar, atau Panther. Ada lagi jenis alat transportasi lain, yaitu pesawat terbang dan kapal laut.Semuanya memiliki fungsi utama untuk mempermudah kegiatan ”pulang dan pergi” dengan beragam muatan yang dibawa. 

Menikmati Perjalanan 

Ketika Anda membaca kolom ini pun pasti dalam situasi entah perjalanan pergi atau pulang, atau bersiap hendak pergi, atau baru saja pulang.Ketika sore atau malam hari tiba di rumah, kita pasti memiliki pengalaman, penilaian,dan kesan,apakah perjalanan hari ini indah atau tidak, nikmat atau menyengsarakan, bermakna atau sia-sia, menguntungkan atau merugikan, dan sekian penilaian lain?

Namun mungkin sekali ada yang tidak sempat merenung membuat refleksi atas apa yang terjadi hari ini. Ada yang sudah jenuh dengan kesulitan hidup, lalu berdamai dengan kesulitan itu.Ada lagi yang merasa hidupnya datar-datar saja tanpa problem, lalu semuanya dipandang biasa saja, tidak perlu melakukan refleksi dan introspeksi. 

Hidup itu dijalani bagaikan air mengalir, entah airnya butek ataukah jernih, yang penting ikut saja kontur tanah dan parit. Namun, betulkah hidup manusia bagaikan air? Pasti tidak sama karena manusia hidup dengan perasaan, keinginan, imajinasi, cita-cita, rencana, dan manusia mesti bereaksi terhadap situasi macam apa pun yang dijumpai dalam perjalanannya.Reaksi itu akan sangat disadari ketika yang dihadapi adalah problem dan kesulitan yang mengganggu kelancaran aktivitas ”pulang dan pergi”. 

Contoh sederhana, ketika jalanan lancar, kita akan biasa saja.Namun begitu jalanan hujan, macet dan banjir,reaksi emosional pasti muncul seketika. Begitu pun ketika terjadi musibah yang menimpa diri, perjalanan menjadi tidak biasa karena muncul kelainan. Pertanyaan, kapan kita merasakan keindahan setiba di rumah? Kapan kita merasa capai, sedih, dan murung sesampai di rumah? 

Pasti jawabannya akan beragam.Namun secara garis besar, jika kendaraannya bagus, perjalanan lancar,target yang dikehendaki tercapai, berjumpa teman seperjalanan yang cocok untuk berbincang, lalu pulang membawa oleh-oleh untuk keluarga di rumah, pasti kita merasa senang melewati hari-hari itu. Terlebih lagi sampai di rumah sudah ditunggu keluarga dan teman-teman tercinta, lalu kita pun membawa oleh-oleh, maka suasana akan tambah membahagiakan. 

Pertanyaan lebih lanjut, bukankah hidup kita ini juga sebuah paket ”pergi dan pulang”? Semua kita dalam situasi transisi, bergerak maju dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari, tahun ke tahun, yang berujung pada titik akhir yang merupakan batas absolut untuk mengakhiri jalan dan rute dunia, lalu kembali ke alam lain. Kembali ke kampung akhirat. Semua penghuni bumi ini tengah berjalan di atas lorong waktu yang tidak kenal mundur. Setiap saat waktu mendorong kita bergerak ke depan, langkah demi langkah, sampai take off dijemput pesawat malaikat maut. 

Setiap menit ada jutaan anak manusia keluar dari gua rahim sang ibu, menambah panjang dan meriah konvoi yang berjalan menuju rumah Ilahi yang jauh dan mesti melewati gua alam kubur untuk meneruskan lagi perjalanan ”pergi dan pulang”. Secara nalar, kita tidak tahu, berangkat dari mana dan mau pulang kembali ke mana? Orang yang tidak jelas dan yakin asal-usul rumahnya pasti akan bingung dalam rute perjalanannya. 

Secara lahiriah, hidup ini bukan pergi dan pulang, melainkan berawal dari peristiwa kelahiran, lalu diakhiri dengan peristiwa kematian. Kalau toh ada fase kehidupan sebelum kelahiran,nalar hanya mampu menelusuri ke belakang dan mentok sampai pada alam rahim ibu. Begitu pun kalau dikatakan di depan masih ada perjalanan lagi, nalar hanya sampai pada pengamatan dan pembuktian bahwa jasad manusia akhirnya hilang ditelan tanah. 

Adalah ajaran dan keyakinan agama yang mengatakan, kita semua berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Tuhan adalah sangkan lan paraning dumadi. Tuhan bagaikan Sang Ibu yang Maha Kasih, Maha Rahim, yang selalu rindu dan menunggu kepulangan ”anak-anak-Nya”, yang kasih-Nya jauh melebihi kasih ibu kita. Ibarat pulang ke rumah, kita akan bergairah kalau yakin bahwa kita memiliki kerinduan dan hubungan cinta kasih dengan Tuhan. Kita tidak takut berjumpa Tuhan karena kita justru ingin membawa pulang ”oleh-oleh” kebajikan dan cinta kepada-Nya. 

Perjalanan pulang ini juga akan terasa indah jika kita menemukan teman seperjalanan yang baik, saling menolong untuk memperbanyak bekal, serta teman berbincang sepanjang jalan kehidupan. Kita pasti punya pengalaman otentik, kapan sebuah perjalanan menimbulkan kenangan yang indah dan kapan sangat sakit kalau dikenang. Bayangkan, saat ini kita tengah berjalan kembali ke rumah Ilahi di akhirat. 

Maka mari ciptakan kenangan yang indah ketika nanti kita kenang dan baca kembali serangkaian episode hidup kita. Jangankan sampai di akhirat nanti, saat ini pun ketika kita menengok ke belakang, terbuka lembaranlembaran hidup yang indah dibaca, ada pula yang bikin malu untuk dikenang kembali. Maka muncul istilah tobat, yang artinya kembali pada orbit yang lurus dan benar. 

Jadi, ketika kita bekerja membanting tulang untuk membeli rumah mewah dan kendaraan,misalnya,sesungguhnya rumah tak lebih sebagai tempat transit sementara. Pada pagi hari kita pergi, sore hari pulang, dan itu berlangsung puluhan tahun. Yang abadi dan akan kita bawa pulang untuk dipersembahkan kepada Tuhan Yang Tercinta, yang selalu kita sebut asma-Nya setiap waktu, adalah bingkisan amal saleh yang terekam dalam disket spiritual. 

Iman dan amal itulah yang menjadi milik kita, yang senantiasa melekat, yang nanti akan di-print-out, sedangkan yang lain akan terlepas dan dilepas. (*) 

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT 
Rektor UIN Syarif Hidayatullah
Fosil Ular Raksasa Ditemukan di Kolombia
Friday, 06 February 2009
ImageTERPANJANG Gambar rekaan ular titanoboa cerrejonensis yang dikeluarkan the Smithsonian Institute kemarin. Para ilmuwan dari University of Florida, AS menemukan fosil ular raksasa ini di Cerrejon, Kolombia.
 

WASHINGTON (SINDO) – Sebelumnya,adanya ular raksasa yang mampu memangsa manusia hanya bisa dibayangkan dalam film Anaconda. Ternyata, beberapa ilmuwan menemukan sebuah fosil ular yang panjangnya diperkirakan sama dengan bus dan beratnya seperti mobil. 

Fosil ular raksasa tersebut ditemukan di Kolombia oleh sekelompok peneliti dari University of Florida, AS. Para ilmuwan menyebutkan,ular tersebut hidup di hutan tropis setelah punahnya masa TyrannosaurusRex sekitar 60 juta tahun lalu.Ular tersebut mempunyai panjang 42 kaki atau 13 meter. ”Yang jelas, ular raksasa tersebut lebih berat dibandingkan bison atau banteng dan lebih panjang dibandingkan bus kota,”kata Jack Conrad,pakar ular dari the American Museum of Natural History di New York kemarin.

”Dengan ukuran seperti itu,mudah saja ular tersebut memakan mangsa seukuran sapi.Bahkan,manusia pun dapat langsung ditelan mentah-mentah,”ujarnya. Ketua tim ilmuwan, Jason Head,dari Universitas Toronto diMississauga,Kanada,mengatakan ular terbesar itu mampu menelan manusia dan diperkirakan beratnya lebih dari 1 ton. ”Kalau ular itu masuk ke ruangan saya untuk memakan saya, maka dia akan kesulitan melewati pintu,”kata Head. 

Sekadar perbandingan, ular anaconda hijau yang dikenal paling berat di dunia memiliki bobot mencapai 250 kg. Sementara ular piton yang dikenal sebagai binatang melata palingpanjangdidunia,maksimal hanya mencapai 10 meter. Para ilmuwan menamakan fosil ular tersebut titanoboa cerrejonensis, artinya ular boa yang sangat kuat dari Cerrejon, Kolombia. Cerrejon adalah nama daerah tempat fosil itu ditemukan. Dengan tubuh seperti itu, titanoboa berperilaku seperti anaconda dan menghabiskan waktu di dalam air. 

Kalau sedang di darat,titanoboa akan bergerak melata. Ukuran tubuh titanoboa yang luar biasa memberi petunjuk tentang habitatnya, yakni hidup di suhu lingkungan yang hangat. Penemuan fosil titanoboa memunculkan pendapat bahwa temperatur di garis khatulistiwa meningkat bersamaan dengan suhu global.Hal ini kontras dengan hipotesis yang mengatakan bahwa suhu tidak akan naik. ”Ini adalah sebuah lompatan kalau diterapkan pada kondisi masa lalu dengan perubahan iklim,”ungkap Head. 

Menurut dia, penemuan itu menggambarkan bahwa daerah di garis khatulistiwa akan menghangat bersama dengan bertambahnya usia planet.” Namun, tidak akan ada lagi ular raksasa karena kita sudah memusnahkan habitat mereka dengan pembangunan dan penebangan hutan di wilayah ekuator,”paparnya. Menurut peneliti Jonathan Bloch dari University of Florida,penemuan ular tersebut jauh dari imajinasi para sutradara film horor Hollywood. Sebenarnya,titanoboa pertama kali dipamerkan di awal 2007 di Florida Museum of Natural History di University of Florida di Gainesville. 

Selanjutnya, para ilmuwan melakukan rangkaian penelitian sebelum merilisnya dalam jurnal Nature kemarin. Para ilmuwan masih akan kembali ke Kolombia untuk menemukan beberapa bagian fosil yang belum ditemukan. (BBC/LA Times/ andika hendra m)
Jum'at, 06 Februari 2009
WASHINGTON D.C. - Indonesia boleh berbangga karena menjadi tamu pertama yang diterima pemerintah baru Ameriksa Serikat. Mengutip inilah.com, Wapres Jusuf Kalla merupakan pimpinan negara asing pertama yang diterima Wapres AS Joe Biden. Presiden Barack Obama juga belum menerima tamu asing.

"Jadi, saya Wapres pertama yang diterima Wapres Joe Biden," kata Kalla setelah bertemu Joe Biden di Washington D.C., AS, kemarin waktu setempat.

Menurut Kalla, dirinya diterima Biden di kantornya, yang berada di west wing Gedung Putih. Biden, lanjut Kalla, sebenarnya belum siap menerima dirinya. Sebab, kabinet Obama-Biden belum dilantik. "Namun, karena Wapres dari Indonesia, akhirnya saya diterima," ujarnya.

Pertemuan tersebut sedianya berlangsung 30 menit. Namun, karena keduanya baru pertama bertemu, pertemuan itu akhirnya berlangsung sekitar 45 menit. Menurut Kalla, pertemuannya dengan Biden berlangsung santai dan hangat.

Berbagai hal dibicarakan dalam pertemuan itu. Terutama peningkatan kerja sama antara kedua negara. Meski demikian, Kalla mengaku bahwa Indonesia tidak meminta bantuan apa pun kepada AS. "Justru Wapres Joe Biden kaget. Biden tanya apa yang bisa saya bantu?" ucapnya. Kalla sendiri menyarankan agar AS segera menyelesaikan masalah Palestina. 

Sebelumnya Kalla juga menghadiri acara tahunan jamuan pagi atau National Prayer Breakfast antara pemerintah, senat, dan Kongres AS di Hotel Hillton Washington D.C. Dalam kesempatan tersebut, Kalla menyampaikan pidato berjudul Creating Peace in Indonesia, Peaceful Settlement and Reconciliation.

Sementara itu, Indonesia pantas berharap banyak terhadap hubungan diplomasinya dengan Amerika Serikat. Setelah Wapres Jusuf Kalla menjadi tamu pertama bagi Wapres Joe Biden, kini giliran Menlu Hillary Clinton yang bakal mengawali kunjungan ke tanah air.

Informasinya, aplikasi visa ke Indonesia dikirimkan staf Hillary Clinton ke KBRI di Jalan Massachusetts, Washington D.C., hanya beberapa saat setelah dilantik dan disumpah oleh Wapres Joe Biden menjadi Menlu AS menggantikan Condoleezza Rice. Kunjungan tersebut rencananya dilakukan pada negara-negara di Asia. Namun, Indonesia merupakan negara pertama akan dikunjungi.

Rencana kunjungan Hillary itu kemarin disampaikan Mensesneg Hatta Radjasa. Dia menilai wajar bahwa Indonesia ditempatkan sebagai salah satu negara yang akan dikunjungi Menlu AS tersebut. "Waktu pidato di depan senat beberapa waktu lalu, dia (Hillary) sudah menyinggung peran penting Indonesia sebagai salah satu negara yang mampu mengatasi dampak krisis finansial global," ujarnya di Jakarta kemarin (5/2). "Indonesia masuk dalam radar negara-negara besar yang patut diperhitungkan," sambungnya.

Meski demikian, lanjut Hatta, bukan soal kunjungan Hillary yang harus diperhatikan, melainkan bagaimana Indonesia dan AS bisa membangun sinergi dan menjaga hubungan baik serta saling menghormati. Menurut Hatta, sebelumnya Presiden AS Barack Obama juga telah mengeluarkan pernyataan bahwa AS akan berpartner dengan negara-negara Islam. "Ini harus dimanfaatkan sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim," ujarnya. (iw/nw)
  Berita Utama
[ Selasa, 27 Januari 2009 ]
JAKARTA - Tuhan memberikan karunia fenomena astronomi yang jarang terjadi bagi sebagian warga Indonesia kemarin sore (26/1). Saat menikmati hari libur tahun baru Imlek, masyarakat disuguhi bonus istimewa yang tidak akan muncul setiap saat, yakni gerhana matahari cincin. 

Selain Papua, peristiwa tertutupnya matahari oleh bulan itu bisa dilihat di seluruh Indonesia. Namun, gerhana cincin bisa dilihat sempurna di wilayah Tanjung Karang, Lampung, dan Anyer, Banten.

Proses gerhana terjadi pukul 15.21-17.50 WIB dan mencapai puncaknya pukul 16.41. Dengan demikian, gerhana matahari cincin kemarin terjadi sekitar dua jam 20 menit.

Indo Pos (Jawa Pos Group) melaporkan, di Jakarta, ratusan pengunjung menggunakan kacamata filter melihat gerhana matahari di Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP Iptek) Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Masyarakat Bandung dan sekitarnya antusias menyaksikan gerhana matahari cincin di Observatorium Bosscha, Lembang.

Koordinator Pengamatan Observatorium Bosscha Muhammad Irfan menyatakan, pemandangan indah terlihat ketika matahari dimasuki penumbra bulan. Pemandangan semakin elok karena sebelum gerhana sempurna, awan menyelimuti pinggiran matahari. 

''Awan tersebut menjadi semacam filter cahaya matahari yang sangat menyilaukan, sehingga masyarakat lebih aman dan bisa melihat langsung dengan alat sederhana seperti kacamata filter,'' jelasnya kepada Radar Bandung (Jawa Pos Group) kemarin.

Dia menuturkan, gerhana matahari cincin terjadi karena bulan berjalan di antara matahari dan bumi. ''Matahari tertutup bulan yang sedang berada lebih jauh dari jarak rata-rata, sehingga bagian matahari yang tidak tertutup bulan membentuk cincin cahaya,'' ungkapnya. Pada gerhana matahari total, bulan menutup 100 persen permukaan matahari.

Disinggung kemungkinan buta jika melihat langsung, Irfan menyatakan kekhawatiran itu terlalu jauh. ''Kalau kebutaan, terlalu ekstrem. Ya, hanya sebatas sakit mata, lalu keluar belekan,'' ujarnya.

Berdasar pantauan Radar Bandung, pengunjung berduyun-duyun mendatangi Observatorium Bosscha sejak pagi. Berdasar penjualan tiket, sedikitnya 500 pengunjung terlihat memadati tempat. Padahal, kuota maksimal kunjungan di Bosscha adalah 150 orang per hari.

Memanfaatkan waktu libur, beberapa pengunjung mengikutsertakan keluarganya untuk menyaksikan gerhana matahari cincin itu. ''Saya datang ke sini (Bosscha) hanya untuk menyaksikan fenomena langka ini. Sekalian bahan pelajaran astronomi bagi anak-anak,'' kata Yeti, 39, pengunjung asal Cimahi yang hadir bersama suami dan tiga anaknya. 

Beberapa pengunjung yang enggan antre memilih memakai kacamata pelindung (filter myler) untuk menyaksikan gerhana secara langsung tanpa teleskop. 

Sementara itu, sekitar 1.000 jamaah Masjid Agung Raya Bandung menyambut datangnya gerhana dengan bertakbir dan melakukan salat gerhana. Dipimpin H Ade Badruzaman, salat gerhana dan khotbahnya berlangsung sejam, yaitu pukul 16.00-17.00.

Dalam pesan khotbahnya, Badruzaman menyampaikan pentingnya tafakur dalam menyikapi fenomena alam yang terjadi. Termasuk dalam hal ini, munculnya gerhana matahari cincin. ''Gerhana matahari harus disikapi sebagai wujud kebesaran Allah SWT yang menciptakan alam semesta beserta isinya,'' ujarnya.

Bagi Anda yang tidak sempat menyaksikan fenomena alam langka kemarin, jangan khawatir. Pakar astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) Moeji Raharto memperkirakan gerhana matahari cincin akan terlihat lagi. Tapi, Anda harus bersabar. Sebab, peristiwa itu baru akan terjadi 10 tahun lagi, yakni pada 26 Desember 2019, di Sumatera Selatan. 

Menurut dia, gerhana matahari biasa terjadi dua sampai lima kali setiap tahun di dunia. ''Namun, yang lewat Indonesia antara 10-20 tahun sekali,'' ungkapnya.

Jika penantian gerhana matahari cincin itu terlalu lama, sekali lagi jangan putus asa. Penduduk Indonesia diberi karunia Tuhan menyaksikan gerhana matahari total. Penantian untuk peristiwa gerhana yang lebih fenomenal ini lebih pendek, yakni ''hanya'' tujuh tahun. 

''Setelah gerhana cincin, akan terjadi gerhana matahari total pada 9 Maret 2016. Dan peristiwa itu bisa dilihat di sebagian Indonesia,'' jelas astronom planetarium Riser Fahdiran di kantornya, Jl Cikini Raya, Jakarta, kemarin.(azm/dni/aol/jpnn/kim)