
Selain Papua, peristiwa tertutupnya matahari oleh bulan itu bisa dilihat di seluruh Indonesia. Namun, gerhana cincin bisa dilihat sempurna di wilayah Tanjung Karang, Lampung, dan Anyer, Banten.
Proses gerhana terjadi pukul 15.21-17.50 WIB dan mencapai puncaknya pukul 16.41. Dengan demikian, gerhana matahari cincin kemarin terjadi sekitar dua jam 20 menit.
Indo Pos (Jawa Pos Group) melaporkan, di Jakarta, ratusan pengunjung menggunakan kacamata filter melihat gerhana matahari di Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP Iptek) Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Masyarakat Bandung dan sekitarnya antusias menyaksikan gerhana matahari cincin di Observatorium Bosscha, Lembang.
Koordinator Pengamatan Observatorium Bosscha Muhammad Irfan menyatakan, pemandangan indah terlihat ketika matahari dimasuki penumbra bulan. Pemandangan semakin elok karena sebelum gerhana sempurna, awan menyelimuti pinggiran matahari.
''Awan tersebut menjadi semacam filter cahaya matahari yang sangat menyilaukan, sehingga masyarakat lebih aman dan bisa melihat langsung dengan alat sederhana seperti kacamata filter,'' jelasnya kepada Radar Bandung (Jawa Pos Group) kemarin.
Dia menuturkan, gerhana matahari cincin terjadi karena bulan berjalan di antara matahari dan bumi. ''Matahari tertutup bulan yang sedang berada lebih jauh dari jarak rata-rata, sehingga bagian matahari yang tidak tertutup bulan membentuk cincin cahaya,'' ungkapnya. Pada gerhana matahari total, bulan menutup 100 persen permukaan matahari.
Disinggung kemungkinan buta jika melihat langsung, Irfan menyatakan kekhawatiran itu terlalu jauh. ''Kalau kebutaan, terlalu ekstrem. Ya, hanya sebatas sakit mata, lalu keluar belekan,'' ujarnya.
Berdasar pantauan Radar Bandung, pengunjung berduyun-duyun mendatangi Observatorium Bosscha sejak pagi. Berdasar penjualan tiket, sedikitnya 500 pengunjung terlihat memadati tempat. Padahal, kuota maksimal kunjungan di Bosscha adalah 150 orang per hari.
Memanfaatkan waktu libur, beberapa pengunjung mengikutsertakan keluarganya untuk menyaksikan gerhana matahari cincin itu. ''Saya datang ke sini (Bosscha) hanya untuk menyaksikan fenomena langka ini. Sekalian bahan pelajaran astronomi bagi anak-anak,'' kata Yeti, 39, pengunjung asal Cimahi yang hadir bersama suami dan tiga anaknya.
Beberapa pengunjung yang enggan antre memilih memakai kacamata pelindung (filter myler) untuk menyaksikan gerhana secara langsung tanpa teleskop.
Sementara itu, sekitar 1.000 jamaah Masjid Agung Raya Bandung menyambut datangnya gerhana dengan bertakbir dan melakukan salat gerhana. Dipimpin H Ade Badruzaman, salat gerhana dan khotbahnya berlangsung sejam, yaitu pukul 16.00-17.00.
Dalam pesan khotbahnya, Badruzaman menyampaikan pentingnya tafakur dalam menyikapi fenomena alam yang terjadi. Termasuk dalam hal ini, munculnya gerhana matahari cincin. ''Gerhana matahari harus disikapi sebagai wujud kebesaran Allah SWT yang menciptakan alam semesta beserta isinya,'' ujarnya.
Bagi Anda yang tidak sempat menyaksikan fenomena alam langka kemarin, jangan khawatir. Pakar astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) Moeji Raharto memperkirakan gerhana matahari cincin akan terlihat lagi. Tapi, Anda harus bersabar. Sebab, peristiwa itu baru akan terjadi 10 tahun lagi, yakni pada 26 Desember 2019, di Sumatera Selatan.
Menurut dia, gerhana matahari biasa terjadi dua sampai lima kali setiap tahun di dunia. ''Namun, yang lewat Indonesia antara 10-20 tahun sekali,'' ungkapnya.
Jika penantian gerhana matahari cincin itu terlalu lama, sekali lagi jangan putus asa. Penduduk Indonesia diberi karunia Tuhan menyaksikan gerhana matahari total. Penantian untuk peristiwa gerhana yang lebih fenomenal ini lebih pendek, yakni ''hanya'' tujuh tahun.
''Setelah gerhana cincin, akan terjadi gerhana matahari total pada 9 Maret 2016. Dan peristiwa itu bisa dilihat di sebagian Indonesia,'' jelas astronom planetarium Riser Fahdiran di kantornya, Jl Cikini Raya, Jakarta, kemarin.(azm/dni/aol/jpnn/kim)













