
Khawatir Tsunami, Warga Mengungsi
Liputan6.com, Sorong: Hingga Ahad (4/1) malam, ratusan warga pesisir pantai di Sorong dan Manokwari, Papua, masih mengungsi di dataran tinggi. Gempa susulan dalam skala rendah yang masih terus terjadi membuat warga masih khawatir akan adanya gelombang tsunami. Bahkan, anggota keluarga dari Batalyon 752 pun diarahkan mengungsi ke halaman markas militer setempat yang lebih tinggi dari kawasan sekitarnya [baca: Gempa Susulan Masih Terjadi].
Sedangkan sebagian warga lainnya yang tinggal di dataran tinggi sudah mulai kembali ke rumahnya yang rusak akibat gempa. Selain membersihkan puing-puing rumahnya, mereka juga mendirikan tenda darurat yang diberikan Komandan Distrik Militer (Dandim) Sorong untuk tinggal malam ini.
Sejak Sabtu malam silam, warga Kota Sorong dan Manokwari memang tak bisa tidur. Betapa tidak, sedikitnya 25 kali gempa mengguncang wilayah Papua Barat. Pusat gempa di dalam laut berjarak sekitar 150 kilometer dari Kota Manokwari. Gempa terkuat tercatat 7,5 skala Richter. Badan Meteorologi dan Geofisika sempat mengingatkan potensi tsunami pascagempa. Namun hingga malam tadi tsunami tidak terjadi [baca: Gempa Melukai Belasan Warga Sorong dan Manokwari].
Kondisi tak jauh berbeda dialami para korban cedera. Dengan peralatan dan obat seadanya, tim medis dan pramuka berusaha menolong para korban. Para pasien terpaksa dirawat di halaman Rumah Sakit Sele Be Solu, Sorong, karena dikhawatirkan gempa akan merobohkan bangunan.
Di Manokwari dilaporkan seorang bocah tewas tertimbun reruntuhan rumahnya. Selain itu, belasan warga terluka. Sejumlah bangunan yang rusak parah antara lain Kantor Gubernur Papua Barat, Hotel Mutiara serta masjid di Kampung Makassar. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun langsung menugaskan tiga menteri ke Papua untuk segera membantu korban. Adapun hingga tadi malam sejumlah gempa susulan dalam skala yang rendah masih terjadi. Warga berharap pemerintah bisa segera membantu mereka, khususnya makanan dan obat-obatan.
Data dari pos koordinasi Gubernur Papua Barat hingga Ahad pukul 17.00 waktu setempat menunjukkan, korban tewas satu orang, 51 luka ringan, dan tujuh orang luka berat. Ada 11 gedung pemerintah daerah yang rusak berat dan sembilan rusak ringan. Sementara rumah milik masyarakat yang rusak berat berjumlah 72, sedangkan rusak ringan 356 unit. Tempat ibadah yang rusak ringan 13 dan rusak berat dua. Tiga sekolah tercatat rusak berat. Ada empat hotel yang mengalami rusak berat. Sejauh ini, jumlah pengungsi ada sekitar tujuh ribu orang.
Pemerintah pusat menyerahkan ratusan paket bantuan kepada para korban gempa di Manokwari, Papua. Bantuan yang diangkut pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara ini dibawa tiga menteri. Presiden Yudhoyono memang mengutus Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, dan Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal untuk melihat langsung korban gempa dan merekomendasikan bantuan lanjutan.
Bantuan kemanusiaan itu diterbangkan dari Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Bantuan tersebut antara lain berupa makanan, obat-obatan, tenda, terpal, generator set atau genset, dan perlengkapan memasak. Pesawat Hercules yang mengangkut bantuan ini rencananya akan mendarat di Biak, sebelum akhirnya ke Manokwari. "Sebenarnya Bandara Biak ditutup...tapi karena ini emergency (darurat), maka dibuka," ucap Menteri Sosial.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV






