BannerFans.com

Setahun, Ada 800 Pasien Baru KANKER leher rahim (serviks) masih jadi momok bagi wanita. Sebab, penyakit akibat infeksi human papilloma virus (HPV) itu menjadi "mesin pembunuh" utama di kalangan kaum Hawa. ------------Yang mengkhawatirkan, angka kejadiannya menunjukkan tren meningkat. Berdasar data RSU dr Soetomo, tiap hari tak kurang dari delapan pasien baru kanker leher rahim berobat. Dalam setahun, diperkirakan terdapat 700-800 pasien baru. Kebanyakan pasien yang berobat berusia 40-50 tahun. "Namun, ada pula penderita kanker serviks yang usianya 20-30 tahun," kata dr Brahmana Askandar SpOG(K), spesialis kebidanan dan kandungan RSU dr Soetomo. Dia menceritakan pernah menangani pasien berusia 21 tahun. Pasien tersebut sudah didiagnosis menderita kanker serviks. "Pasien itu menikah pada usia dini, yakni 14 tahun," jelasnya. Pada usia dini, papar konsultan onkologi ginekologi itu, kondisi serviks masih belum mature (matang). Bila sudah menikah, dikhawatirkan serviks mengalami infeksi. Salah satu sumber infeksi tersebut adalah HPV. "Itulah yang dialami pasien tersebut," tambahnya. Lebih lanjut, Brahmana mengatakan ada beberapa penyebab tingginya angka penderita kanker serviks. Pertama, masih sedikit wanita yang mau menjalani pemeriksaan Pap smear. Itu disebabkan ketidaktahuan fungsi dan manfaat pemeriksaan tersebut. Padahal, pemeriksaan itu bisa mendeteksi dini perubahan sel-sel serviks normal menjadi tahap lesi prakanker. "Hanya lima persen yang melakukan Pap smear dari total wanita yang seharusnya wajib memeriksakan diri," ujarnya. Kalaupun tahu mengenai Pap smear, banyak wanita yang tetap enggan memeriksakan diri. "Pemeriksaan Pap smear kan seperti posisi orang melahirkan. Jadi, masih ada perasaan malu atau malas," jelasnya.Alasan-alasan itulah yang membuat penyakit tersebut tak terdeteksi. "Ketika pasien berobat, tahu-tahu sudah stadium lanjut," ucap dokter yang mengambil konsultan onkologi ginekologi di FK UI tersebut. Brahmana menambahkan, untuk bisa berubah menjadi lesi prakanker (tahap sebelum terkena kanker), sel-sel normal butuh waktu 8-15 tahun. Jika dalam waktu tersebut perubahan sel normal (sebelum menjadi lesi prakanker) terdeteksi, pasien bisa segera diterapi. Tingkat kesembuhan kanker serviks bergantung stadium. "Pada stadium lesi prakanker, tingkat kesembuhan mencapai seratus persen. Yakni, menggunakan teknik cauter dan LEEP (loop electrosurgical excision procedure/kerokan pada serviks, Red)," tambah alumnus FK Unair tersebut. Sebaliknya, bila sudah masuk stadium lanjut, kanker serviks sangat sulit disembuhkan.Penyebab kanker serviks selanjutnya adalah perilaku seks yang tak sehat. Misalnya, ganti-ganti pasangan (free sex). Alasan itulah yang mengakibatkan mulai banyak usia muda (20-30 tahun) yang sudah menderita kanker serviks. Tentu saja hal tersebut akan merugikan masa depan pasien kanker itu. Ada kemungkinan pasien tersebut malah sulit memiliki buah hati. "Itulah yang harus diantisipasi. Salah satunya dilakukan dengan pendidikan seks," papar Brahmana. Dokter Poedjo Hartono SpOG(K), ahli kebidanan dan kandungan RSU dr Soetomo, menambahkan, tak banyak wanita yang tahu dan mengenali gejala-gejala kanker serviks. Faktor itulah yang membuat pasien datang dalam kondisi terlambat alias sudah stadium lanjut. "Karena tak paham, akhirnya tak memeriksakan diri ke dokter," ucapnya. Salah satu di antara gejala kanker serviks adalah perdarahan. Terutama, bercak darah setelah berhubungan seksual. Intensitas darah yang keluar semakin banyak seiring dengan bertambahnya stadium kanker. Poedjo mengatakan, sering wanita menganggap remeh perdarahan tersebut. Dianggap hal biasa. Bahkan, ada pula yang beranggapan bahwa bercak darah itu disebabkan gangguan menstruasi saja. "Bila saat itu sudah curiga dan memeriksakan diri ke dokter, pasien bisa langsung berobat ke dokter. Makin dini diketahui, kemungkinan sembuh tambah besar," ulasnya. Gejala lainnya adalah rasa nyeri di daerah pinggul. Itu merupakan salah satu gejala bahwa kanker tersebut telah mencapai stadium lanjut. Keputihan menahun juga salah satu gejala kanker serviks. "Bila mengalami gejala-gejala itu, segera berobat ke dokter," papar Poedjo. (ai/kum)